Hidup Tiga Hari Dalam Seminggu

Semangat membara saat pertama kali datang ke tempat kerja baru di SMA 1 Cikidang. Meskipun aku pernah mendatangi tempat tersebut, melihat bagaimana situasi, kondisi yang ‘jauh’ dari harapan, tidak menyurutkan semangatku yang penuh dengan idealisme sebagai pendidik yang enerjik, penuh dedikasi, dan merasa mampu membawa perubahan.

Jauh dari harapan memanglah ungkapan yang tepat jika kita melihat kondisi sekolah yang serba terbatas. Ruang kelas yang masih kurang, ruang guru yang sangat sempit, bahkan satu meja guru dipakai oleh tiga guru secara bergantian. Toilet yang bau, tidak ada laboratorium IPA, ruang guru yang serba semrawut, dan masih banyak lagi kekurangan. Tentunya aku merasa prihatin dengan kondisi tempat kerjaku sekarang. Maklum, aku belum mengalami situasi lingkungan kerja seperti ini. Tiga tahun aku manjadi guru di sekolah swasta dengan fasilitas yang serba lengkap dimana satu guru tidak hanya diberikan satu meja kerja saja, melainkan satu ruangan khusus dengan semua fasilitas termasuk komputer dan jaringan internet.

Pertama kali masuk aku diterima oleh beberapa guru yang memang sudah ku kenal sebelumnya. Tapi sayang, harapan untuk diterima oleh kepala sekolah ternyata jauh dari harapan. Walaupun aku sempat mengucapkan salam pada kepala sekolah, tapi seolah kepala sekolahku acuh tak acuh dengan kehadiranku. Sebagai guru yang pertama kali masuk tentunya ini tidak sesuai dengan harapan, dan berakibat menurunkan kewibawaan kepala sekolah di hadapanku. Sewajarnyalah aku diterima dan diajak berbincang-bincang seputar tugas dan tanggung jawabku kedepan. Sama seperti pengalamanku sebelumnya.

Akhirnya aku menemui bagian kurikulum, menanyakan tugas dan jadwal kerjaku. Alangkah terkejutya aku ketika beliau memberiku jadwal tiga hari kerja yaitu rabu, kamis dan sabtu dengan 24 jam pelajaran. Pertanyaanku selanjutnya adalah “lalu bagaimana dengan tiga hari yang lain?’……………..
Rupanya budaya di sekolah negeri, guru masuk pada hari aktif mengajar saja. Artinya rabu, kamis dan sabtu aku masuk sesuai jadwal, sedangkan senin, selasa dan jumat aku diijinkan untuk tidak masuk kerja. Sama halnya dengan guru-guru yang lain yang rata-rata hanya masuk tiga hari dalam seminggu. Pada hari itu separuh dari jumlah guru yang ada tidak hadir karena tidak ada jam mengajar. Artinya aku merasa hidupku haya aku jalani tiga hari dalam seminggu.

Tapi hidup itu pilihan, dan aku sudah memilih untuk menjalani hidup di tempat kerja yang baru. Tentunya ini akan menjadi suatu tantangan dan beban batin tersendiri buatku. Terbiasa menjadi guru yang super sibuk di sekolah lama yang membawaku pada situasi kerja serba aktif, sibuk dimana aku sangat menikmati situasi tersebut. Kini aku berhadapan dengan situasi kerja yang serba ‘letoy’
Di satu sisi aku merasa diuntungkan dengan situasi seperti ini, dengan waktu kerja yang minim mendorongku untuk semakin kreatif. Tapi disisi lain keadaan ini bukanlah jati diriku. Tentunya akan ada banyak konflik pribadi yang datang akibat situasi ini. Semoga aku cepat menyesuaikan dengan situasi seperti ini.

~ oleh harysusanto pada Maret 23, 2009.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.